KATALOG TANAH BOYOLALI
Info Jual Beli Tanah, Rumah, Guest House , Gudang dll Area Boyolali Menerima Titip Jual Properti Mendampingi proses s.d selesai
Minggu, 25 Mei 2025
Kamis, 28 September 2017
Jalur Pendakian di Gunung Merbabu
| dipuncak Sabana 2 (foto fadel) |
beberapa wisata di Taman Nasional Gunung Merbabu antara lain :
Wisata pendakian yang resmi:
1. Jalur pendakian Selo
3. Jalur Pendakian Cuntel
4. Jalur Pendakian Tekelan
5. Jalur Pendakian Suwanting
selain jalur pendakian ini sebenarnya ada jalur-jalur lainnya, akan tetapi pihak Balai Taman Nasional Gunung Merbabu selaku pemerintah baru mengakui 5 jalur itu dengan alasan antara lain pelestarian ekosistem, keterwakilan dan minimalisasi dampak kerusakan
Senin, 23 September 2013
DAFTAR PERSEWAAN ALAT ALAT BASE CAMP SELO PAK PARMAN
PERSEWAAN
ALAT-ALAT PENDAKIAN
JALUR
PENDAKIAN SELO
BASE CAMP
PAK PARMAN
No
|
Nama Barang
|
Harga (Rp)
|
1.
|
Nasting
|
10.000
|
2.
|
Tas
40 Liter
|
30.000
|
3.
|
Kompor
|
25.000
|
4.
|
Trangia
|
40.000
|
5.
|
Sleeping
Bag (SB)
|
6.000
|
6.
|
Tenda
|
30.000
|
7.
|
Matras
|
3.000
|
Blog :
petualangmerbabu.blogspot.com.
Cp: Gito +62 87836352260
Senin, 12 Agustus 2013
Ini Loh Primata di Taman Nasional Gunung Merbabu
Terdapat 4 Jenis Primata di Pulau Jawa yang ada di Alam antara lain : Owa Jawa, Monyet Ekor Panjang, Surili, dan Lutung Budeng. Di Gunung Merbabu terdapat 3 jenis Primata yang ada di Pulau Jawa meliputi : Monyet Ekor Panjang, Surili dan Lutung Budeng. Mau tau deskripsi ketiga jenis itu mari kita ikuti deskripsinya sebagai berikut:
1. Monyet Ekor Panjang
2. Surili
3. Lutung Budeng
to be continued
Base Camp Jalur Pendakian Selo
Jalur Pendakian Selo Taman Nasional Gunung Merbabu merupakan salah satu jalur pendakian dari 4 jalur pendakian di Taman Nasional gunung Merbabu, Jalur ini terletak di Resort Semuncar SPTN Wilayah I Kopeng.
Pada pintu masuk Jalur Pendakian selo terdapat dua base camp yang bisa para pendaki jadikan tempat istirhat mauapun tempat penitipan motor ataupun mobil. Dibasecamp ini para pendaki juga bisa tinggal untuk kegiatan Latsar, Diksar, maupun pelatihan-pelatihan lainnya.
Para pendaki bisa juga memesan makanan maupun minuman di basecamp ini, Teman-teman juga bisa minta dijemput jika pengin mudah kesana, mau dijemput di Terminal Sunggingan Boyolali, Terminal Tirtonadi
Solo, Stasiun Balapan solo maupun stasiun Tugu yogyakarta, bisa juga dibandara Adi Sumarmo di boyolali maupun bandara Adi Sucipto di Yogyakarta
Rabu, 10 Juli 2013
SEJARAH MENDAKI GUNUNG
Sejarah Perkembangan
Kegiatan mendaki gunung telah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu, bahkan menurut kisah Mahabarata. Pandawa Lima yang terdiri dari Sadewa, Nakula, Arjuna, Bhima dan Yudhisthira, beserta istri mereka Draupadi, mendaki gunung Mahameru untuk mencapai puncaknya.
Dalam sejarah dunia, pendakian gunung tertinggi pertama kalinya terjadi dengan pencapaian puncak Everest oleh Sir Edmund Hillary, pendaki gunung asal New Zealand dan Tenzing Norgey, seorang sherpa[Pemandu atau porter di pegunungan Himalaya berasal dari bangsa Tibet] asal Tibet pada tahun 1953.
Keinginan manusia untuk mendaki gunung sebelumnya sudah muncul pada abad 19, ketika orang-orang Swiss (The Alps) mulai mendaki gunung-gunung untuk mencapai puncaknya, dan Edward Whymper, seorang berkebangsaan Inggris, adalah orang yang pertama berhasil mencapai puncak gunung Matterhorn pada tahun 1865.
Sejak saat itu, banyak ekspedisi-ekspedisi untuk mencapai puncak-puncak gunung di dunia. Klub pendakian gunung Alpine Club dari Inggris telah melakukan lebih dari 600 ekspedisi semenjak Alpine Club didirikan pada tahun 1857. Tercatat dalam Russian Mountaineering Federation, bahwa telah dilakukan 48 ekspedisi untuk mencapai puncak-puncak Himalaya pada tahun 1994-1998.
Di Indonesia sendiri tercatat 145.151 orang yang mendaki gunung Gede Pangrango, Jawa Barat pada tahun 1996-2000. Dijelaskan pula dalam Diktat Sekolah Manajemen Ekspedisi Wanadri 2000 bahwa hampir semua perguruan tinggi atau SLTA mempunyai kelompok-kelompok penggiat alam terbuka.
Secara perorangan maupun berkelompok mereka mengembangkan segi petualangan, segi ilmu pengetahuan, segi olahraga, segi rekreasi dan segi wisata. Perkembangan ini dilakukan secara luas baik hanya mencakup satu segi saja ataupun secara berkaitan (misalnya mendaki gunung untuk melakukan petualangan saja, olahraga saja, atau untuk olahraga, rekreasi dan wisata) yang mengembangkan segi ilmu pengetahuan dan segi petualangan.
Kegiatan mendaki gunung telah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu, bahkan menurut kisah Mahabarata. Pandawa Lima yang terdiri dari Sadewa, Nakula, Arjuna, Bhima dan Yudhisthira, beserta istri mereka Draupadi, mendaki gunung Mahameru untuk mencapai puncaknya.
Dalam sejarah dunia, pendakian gunung tertinggi pertama kalinya terjadi dengan pencapaian puncak Everest oleh Sir Edmund Hillary, pendaki gunung asal New Zealand dan Tenzing Norgey, seorang sherpa[Pemandu atau porter di pegunungan Himalaya berasal dari bangsa Tibet] asal Tibet pada tahun 1953.
Keinginan manusia untuk mendaki gunung sebelumnya sudah muncul pada abad 19, ketika orang-orang Swiss (The Alps) mulai mendaki gunung-gunung untuk mencapai puncaknya, dan Edward Whymper, seorang berkebangsaan Inggris, adalah orang yang pertama berhasil mencapai puncak gunung Matterhorn pada tahun 1865.
Sejak saat itu, banyak ekspedisi-ekspedisi untuk mencapai puncak-puncak gunung di dunia. Klub pendakian gunung Alpine Club dari Inggris telah melakukan lebih dari 600 ekspedisi semenjak Alpine Club didirikan pada tahun 1857. Tercatat dalam Russian Mountaineering Federation, bahwa telah dilakukan 48 ekspedisi untuk mencapai puncak-puncak Himalaya pada tahun 1994-1998.
Di Indonesia sendiri tercatat 145.151 orang yang mendaki gunung Gede Pangrango, Jawa Barat pada tahun 1996-2000. Dijelaskan pula dalam Diktat Sekolah Manajemen Ekspedisi Wanadri 2000 bahwa hampir semua perguruan tinggi atau SLTA mempunyai kelompok-kelompok penggiat alam terbuka.
Secara perorangan maupun berkelompok mereka mengembangkan segi petualangan, segi ilmu pengetahuan, segi olahraga, segi rekreasi dan segi wisata. Perkembangan ini dilakukan secara luas baik hanya mencakup satu segi saja ataupun secara berkaitan (misalnya mendaki gunung untuk melakukan petualangan saja, olahraga saja, atau untuk olahraga, rekreasi dan wisata) yang mengembangkan segi ilmu pengetahuan dan segi petualangan.
Langganan:
Postingan (Atom)